/
/
banner 728x250
PendidikanPeristiwa

Dianiaya Teman Sekelas, Siswa SMA Trauma ke Sekolah

465
×

Dianiaya Teman Sekelas, Siswa SMA Trauma ke Sekolah

Sebarkan artikel ini
banner 728x250

KONKRET.ID – Salah seorang siswa Kelas 1 SMA Negeri 2 Kota Bengkulu inisial CE (16) belakangan mengalami trauma dan takut untuk pergi ke sekolah lantaran ia mengalami penganiayaanjj oleh teman-teman di kelasnya.

Tindakan penganiayaan sesama pelajar tersebut di ketahui oleh ibunya setelah melihat anaknya setiap pulang sekolah anaknya terlihat seperti merasa kesakitan. Ternyata dugaan sang ibu diakui oleh anaknya bahwa ia kerap dianiaya di sekolah.

Sang ibu, Sumi Hartati (38) akhirnya melaporkan kejadian yang dialami oleh putranya itu ke Polsek Ratu Agung, Polresta Bengkulu. Terduga pelaku atau terlapor adalah AL.

Kepada awak media, Sumi mengaku anaknya itu dipukul oleh teman kelasnya, usai pulang sekolah. Kejadian ini berlangsung di Jalan Sawah Lebar tepatnya Lapang Tenis Stadion GOR.

“Sebelumnya memang anak saya belum mengadu. Tetapi saya mulai curiga karena dia merasa sakit sakit terus saat pulang sekolah. Sempat tidak ingin masuk sekolah lagi, namun saya bujuk akhirnya dia mau sekolah. Ternyata saat kembali pulang sekolah dia merasa sakit sakit dibadan sampai akhirnya mau mengaku kepada saya,” tutur Sumi.

Dari penjelasan anaknya, kata Sumi, yang memukul itu, tidak hanya AL tetapi banyak kawan nya yang ikut juga memukul. Sehingga CE tidak mau masuk sekolah kurang lebih 2 minggu.

Anaknya menagku dia ditendang dibagian belakang kemudian dipukul di bagian tangan hingga memar dan lehernya dicekik. Bahkan hingga saat ini, korban masih mengalami trauma dan tidak masuk sekolah lagi.

“Kalau dari mediasi di sekolah, pelaku ini mengatakan karena dia tidak senang melihat anak saya. Bukan masalah ribut, tapi karena anak saya ini penakut jadi sering di buli di sekolah,” terangnya Sabtu (05/11/2022).

Baca Juga :  Rumah Dinas Wabup Bengkulu Utara Terbakar Lagi

Keluarga pelapor berharap agar peristiwa ini cepat diproses ke pihak berwajib. Selain itu dari pihak bimbingan konseling (BK) sudah melakukan mediasi namun terlapor hingga saat ini belum ada niat baik untuk berdamai.

“Ini saya minta agar proses secepatnya, memang ada permintaan mediasi dari sekolah. Namun saya melihat terlapor ini masih sering mengancam anak saya. Dari pihak sekolah belum mengetahui, hanya dari pihak Guru BK tapi belum ada keputusan sampai saat ini,” tuturnya. [*]

 

Please follow and like us:
Pin Share
Ikuti konkret.id di

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *