BENGKULU – Kisruh soal dana dan kepanitiaan festival tabut di Bengkulu mulai diusut oleh Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu. Ketua Kerukunan Tabut (KKT) telah dimintai keterangannya pada Senin 7 Agustus 2023.
Ketua KKT Ir Achmad Syafri kepada awak media menyampaikan, dirinya tiba di Mapolda Bengkulu sekira pukul 09.00 WIB memenuhi panggilan Polda Bengkulu.
Sejumlah pertanyaan dari pihak kepolisian, kata Syafril, telah ia uraikan. Antara lain terkait tugas tugas kepengurusan dalam pelaksanaan festival tabut itu.
“Saya tiba di Polda Bengkulu pukul 9 pagi tadi, sesuai jadwal pemeriksaan. Ada pertanyaan soal panitia yang aktif dan tidak aktif. Ditanyakan juga soal tugas tugasnya,” kata Syafril.
Selain itu, Syafril juga memberikan keterangan tentang tugas anggota yang memang ada bidang sifatnya struktural saja. Kedatangan Syafril didampingi Jimmy Selaku Kordinator.
“Ada yang aktif ada yang tidak, mengapa ada yang tidak aktif, karena ada tugas dari Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu juga. Termasuk urusan pentas itu kan urusan Dinas Pariwisata,” sebut Syafril.
Dalam pelaksanaan Festival Tabut 2023, kata Syafril, KKT bertanggung jawab terhadap kegiatan pameran/baazar, pengelolaan parkir dan manajemen sampah.
Hal itu tertuang dalam Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor E.248.DISPAR.TAHUN 2023 tentang Petunjuk Teknis Manajemen Tata Kelola Penyelenggaraan Festival Tabut di Provinsi Bengkulu.
Untuk kegiatan ritual Tabut, memang ada dianggarkan di APBD Provinsi Bengkulu sebesar Rp 100 juta. Ia mengatakan, dari alokasi 100 juta itu, yang sudah dicairkan sekitar 70 persen atau Rp 69 juta lebih.
Bantuan APBD yang sudah cair itu, jelas Syiafril, sudah dibagikan kepada 17 Tabut, masing-masing Rp 4 juta. Dana bantuan itu digunakan untuk mempersiapkan rangkaian ritual selama 10 hari, yakni sejak 1 Muharram sampai 10 Muharram.
Selain itu, kata Syiafril, pihaknya juga memenuhi beban PAD Rp 70 juta yang disetorkan ke UPTD Dinas Pariwisata via transfer Bank Bengkulu. Setoran PAD itu, terang Syafril, merupakan biaya sewa tenda selama 10 hari.
Diketahui jumlah tenda ukuran 5×5 meter sebanyak 174 tenda, lalu ukuran 3×3 meter untuk UKM ada sebanyak 100 tenda UKM dan ukuran 3×3 meter lainnya sebanyak 8 tenda. Lalu, sewa stand 3×3 sebesar Rp 4 juta, sementara sewa stand 5×5 adalah Rp 6 juta. Artinya ada potensi pemasukan lebih dari Rp 1 miliar.
Terpisah, Ketua ASB Feri Vandalis mengatakan pelaksanaan dan penganggaran festival ini tidak transparans. Sebab kemeriahan hiburan rakyat yang berlangsung selama 10 hari hanya meriah di pembukaan dan penutupan.
“Bahkan pagelaran pentas seni dan budaya ketika Presiden Jokowi datang ke panggung sangat gelap tanpa ada videotron dan layar kiri kanan untuk penonton dan sound hanya terdengar di seputaran panggung saja, tidak seperti malam pembukaan,” kata Feri.
Panitia pelaksana acara lomba dan pagelaran pentas seni dan budaya festival tabut 2023 mempertanyakan persoalan pendapatan dari lapak/booth bazar dan pameran.
Termasuk juga soal pengaturan titik layout posisi lapak booth pameran bazar/stand yang ada di wilayah lapangan merdeka Kota Bengkulu.
“Pertanyaannya, kemana saja peruntukan anggaran di hitung berapa titik lapak bazar yang ada di seputaran lapangan merdeka dan kawasan Tapak Paderi,” kata dia.
Padahal semula panitia diajak ikut rapat serta membahas skema layout yang sudah di bicarakan bersama dengan bidang teknis opd dinas pariwisata provinsi Bengkulu dan pihak KKT Bencoolen, perbankan, sponsor dan dinas lainnya.
“Tidak seperti saat ini berantakan dan seperti kumuh,” ujarnya.
Karena itu Festival Tabut kali ini menurutnya menjadi PR penting khususnya untuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. ASB pun meminta untuk segera meminta tim direktorat untuk mengaudit anggaran yang sudah di anggarkan untuk anggaran Festival Tabut 2023. [**]


































