KONKRET.ID – Seorang murid MTs di Kecamatan Lubuk Pinang Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu inisial RF harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat lantaran mengalami pembekakan pada tulang punggung dan tulang iga, diduga akibat dipukul oleh gurunya di sekolah.
Dikutip konkret.id dari Sinarfakta.com, murid laki-laki kelas VII tersebut dipukul oleh gurunya menggunakan gagang sapu, pada Senin 31 Oktober lalu. Diduga lantaran kuatnya pukulan guru tersebut sehingga mengakibatkan gagang sapu patah.
Tidak hanya dipukul menggunakan gagang sapu, murid MTs yang tentunya masih tergolong anak-anak itu ditendang dan diancam, agar tidak melaporkan kepada orang tuanya. Jika melapor, kata guru tersebut, murid malang itu akan dikeluarkan dari sekolah.
Kabar terhimpun, aksi pemukulan dan tindak kekerasan itu bearawal saat suasana ruang belajar berisik oleh suara dan ulah para murid, sehingga membuat sang guru nmarah dan memukuli salah seorang murid yang diduga membuat berisik.
Wali murid, Ependi kepada awak media mengungkapkan awalnya dia mengira anaknya itu hanya demam biasa. Dia mengetahuinya setelah teman-teman anaknya memberitahukan bahwa RF dipukul guru.
“Saya kira anak kami hanya demam biasa tetapi setelah mendengar cerita teman-teman di sekolah bahwa anak kami dipukul dan di tendang oleh gurunya di sekolah. Dari hasil Ronsen di RSUD Mukomuko, dan dari keterangan dokter, mengatakan bahwa ada pembengkakan pada tulang punggung dan tulang iga, akibat benda tumpul,” tutur wali murid Ependi.
Atas kejadian tersebut Ependi melaporkan ke Penegak Hukum dalam hal ini ke Polsek Lubuk Pinang, Polres Mukomuko. Dengan harapan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Sementara itu, Kepala Sekolah MTS, Renaldi menyebut, dirinya sangat menyayangkan kejadian kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru di sekolahnya. Dia menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban.
“Saya meminta maaf kepada keluarga korban atas kejadian tersebut, dan saya berharap kepada seluruh wali kelas supaya bersabar dalam mendidik anak dan jangan sampai kepancing emosi kepada anak didik kita, karena kita jadi panutan mereka yang merupakan generasi penerus bangsa,” kata Renaldi.


































