BENGKULU UTARA – Tradisi “Suroan” yang dilaksanakan menyambut bulan Muharram pada kalender Hijriyah atau bulan Suro dalam istilah Jawa, pada hakikatnya merupakan penanggalan tahun baru dalam perhitungan masyarakat Jawa Islam. Kegiatan ini juga sebagai penghormatan untuk memuliakan datangnya bulan Muharram atau bulan Suro.
Tradisi tersebut juga dilaksanakan di Desa Tebing Kaning Kecamatan Arma Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. Masyarakat setempat menggelar syukuran menyambut 1 Muharram 1445 Hijriyah.
Dalam acara tasyakuran ini tak lepas dengan adanya “Takir Plontang” sebagai pelengkap wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kegiatan digelar di halaman rumah Ketua Adat Desa Tebing Kaning, pada Senin 17 Juli 2023.

“Acara kita mulai pada Pukul 16.00 Wib, dan do’a bersama masyarakat sebagai tanda diperingatinya Tahun Baru Islam. Kegiatan serupa memang biasa kita laksanakan setiap tahun,” Kata Daud selaku Ketua Adat Desa Tebing Kaning, Senin.
Tampak hadir sejumlah tokoh politik diantaranya, Ketua Fraksi Nasdem DPRD Provinsi Bengkulu, Tantawi Dali, S.Sos, MM, Ketua DPRD BU Sonti Bakara, SH, dan Anggota DPRD BU, Aliantor Harahap.
Selain itu hadir pula Camat Arma Jaya, Kades Tebing Kaning Slamet Riyadi, tokoh masyarakat serta seluruh masyarakat baik Desa Tebing Kaning beserta tamu dari luar desa.
“Kegiatan tradisi ini sudah dimulai pada tahun 1934 lalu hingga sekarang,” kata Daud menambahkan.
Dijelaskannya, Takir Plontang sejenis makanan yang dibungkus dengan daun pisang dan kelapa muda berbentuk seperti perahu, dengan ujungnya dibentuk dengan lidi.
Bisa juga isinya berupa nasi kuning berikut lauk pauk dan sayuran, kemudian diletakkan di atas tampah berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu.
“Dibalik makna Takir Plontang adalah salah satu sarana bagi kita dalam memaknai arti kehidupan yang hakiki dengan kesederhanaan yang diiringi dengan kebersamaan dan kerukunan,” ucapnya.
Sejatinya, lanjut Daud, suroan ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas rahmat dan limpahan rezeki yang diberikan khususnya untuk masyarakat Desa Tebing Kaning.
“Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas apa yang sudah diberikan oleh Nya kepada kita. Secara bersama-sama kita juga membacakan do’a tolak balak, semoga kedepannya desa kita lebih baik, aman, dan tentram,” ucap Dia. [**]




































Respon (1)