PALEMBANG, – Pelayanan farmasi di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang dikeluhkan sejumlah pasien dan keluarga pasien. Mereka mengaku harus pulang tanpa membawa obat yang diresepkan dokter lantaran pelayanan pengambilan obat ditutup pada pukul 16.30 WIB, meski masih banyak antrean yang belum terlayani.
Salah satu orang tua pasien yang beralamat di Desa Talang Kemanag Kabupaten Banyuasin mengaku mengalami langsung kejadian tersebut saat mengantarkan anaknya berobat di Poli Saraf Anak RSMH Palembang, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, setelah selesai menjalani pemeriksaan dokter, dirinya langsung menuju bagian farmasi untuk mengambil obat sesuai resep yang diberikan. Namun setelah menunggu berjam-jam, obat yang dibutuhkan anaknya tak kunjung diperoleh.
“Nomor antrean pengambilan obat anak saya C-0048. Setelah selesai diperiksa dokter, saya langsung antre di bagian farmasi sejak pukul 14.30 WIB. Sampai nomor antrean anak saya hampir dipanggil, jam sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Petugas kemudian menyampaikan pelayanan sudah tutup dan saya diminta datang lagi besok pagi,” ujarnya.
Saat dikonfirmasi media ini, salah satu petugas farmasi membenarkan bahwa pelayanan pengambilan obat hanya berlangsung hingga pukul 16.30 WIB.
“Pelayanan pengambilan obat tutup pukul 16.30. Bagi yang belum mendapatkan obat bisa diambil besok pukul 08.00 pagi,” jawabnya singkat.
Kondisi tersebut membuat banyak pasien dan keluarga pasien kecewa. Pasalnya, mereka telah menjalani seluruh tahapan pelayanan rumah sakit, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan dokter, hingga mengantre di farmasi selama berjam-jam, namun akhirnya harus pulang tanpa membawa obat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, bukan hanya satu atau dua pasien yang mengalami hal serupa. Puluhan pasien terlihat masih menunggu antrean ketika pelayanan farmasi berakhir. Akibatnya, mereka terpaksa meninggalkan rumah sakit tanpa membawa obat yang telah diresepkan dokter.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan keluarga pasien. Sebab, obat merupakan bagian penting dari proses pengobatan yang telah ditetapkan dokter. Ketika obat tidak dapat diperoleh pada hari yang sama, maka proses pengobatan pasien otomatis ikut tertunda.
Orang tua pasien tersebut mengaku sempat memohon kepada petugas farmasi agar diberikan kebijakan khusus karena anaknya sangat membutuhkan obat yang diresepkan. Namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi.
“Kami sempat meminta bantuan karena anak kami membutuhkan obat tersebut. Tapi tetap diminta datang lagi besok pagi,” katanya.
Bagi sebagian pasien, terutama pasien anak-anak, lansia, maupun penderita penyakit tertentu, penundaan pengambilan obat bukan sekadar persoalan antrean atau administrasi. Keterlambatan mendapatkan obat berpotensi mengganggu kelanjutan terapi yang telah ditetapkan tenaga medis.
Sementara itu, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Humas RSMH Palembang, Suhaimi, membenarkan dirinya masih menjabat sebagai humas rumah sakit. Namun terkait persoalan pelayanan farmasi, ia mengaku tidak dapat memberikan penjelasan karena bukan bagian dari unit tersebut.
“Ya benar saya masih humas di RSMH, tapi saya bukan di bagian farmasi. Saya bagian media jadi saya tidak mengerti. Coba langsung tanyakan kepada petugas farmasinya yang mungkin lebih paham,” ujar Suhaimi.
Keluhan ini menjadi sorotan karena menyangkut pelayanan dasar rumah sakit kepada pasien. Di satu sisi pasien telah menyelesaikan pemeriksaan dan memperoleh resep dokter, namun di sisi lain obat yang menjadi bagian dari pengobatan justru tidak bisa diperoleh karena keterbatasan waktu pelayanan.
Masyarakat berharap manajemen RSMH Palembang dapat mengevaluasi sistem pelayanan farmasi agar pasien yang telah mengantre sejak siang tidak lagi pulang dengan tangan kosong. Terlebih bagi pasien yang membutuhkan obat untuk segera dikonsumsi sesuai anjuran dokter.
Sebab bagi pasien dan keluarganya, datang ke rumah sakit bukan sekadar mendapatkan resep, melainkan memperoleh pengobatan secara utuh. Ketika obat yang diresepkan tak kunjung sampai ke tangan pasien, maka pelayanan kesehatan yang diharapkan pun terasa belum benar-benar selesai.
Pewarta : Shr


































